Selasa, 15 Juni 2010

Lampung Rentan Peredaran Gelap Narkoba




Posisi Provinsi Lampung yang sangat strategis sebagai gerbang Pulau Sumatera dan Jawa dinilai sangat rentan terhadap peredaran gelap narkoba.

Berdasarkan data ungkap kasus sampai dengan September 2009 tercatat sebanyak 641 orang pria dan 35 orang wanita tertangkap sebagai pengedar narkoba, sehingga ancaman bahaya penyalah gunaan narkoba menjadi ancaman serius bagi kehidupan generasi muda. Selain itu, pembuatan narkoba jenis ekstasi dan shabu-shabu sudah menjadi produksi home industry.

Bahkan, selama tahun 2009 tercatat sebanyak 136 orang menjadi korban HIV, serta hingga bulan Mei 2010 lalu, membengkak menjadi 214 orang.

Demikian diungkapkan Ketua Badan Narkotika Provinsi (BNP) Lampung Sugiarto saat sosiaalisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dan Undang-undang No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika di SMP Negeri 1 Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Selasa (15/6).

Akibat penyalah gunaan narkoba, kata Sugiarto, adalah meningkatnya penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril.

“Di Provinsi Lampung sampai tahun 2009 tercatat 188 orang positif AIDS, dimana 82 persen diakibatkan penyalah gunaan narkoba dengan jarum suntik , sedangkan 18 persen diakibatkan hubungan seks tidak aman, baik heteroseksual maupun homoseksual, serta dari ibu hamil positif HIV ke janin yang dikandung,” ungkapnya.

Faktor pendorong penyalah gunaan narkoba, lanjut dia, biasanya disebabkan beberapa faktor, diantaranya karena zat itu sendiri yang mudah diperoleh, dan bila dipakai bisa merubah pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku.

“Bisa juga karena faktor individu yakni biasanya karena coba-coba, serta kurangnya pendidikan keagamaan,” ujarnya.

Untuk mengatasi penyebaran narkoba lebih luas, tambah Sugiarto, bisa dilakukan pencegahan secara terpadu, yakni primer atau pencegahan sejak dini yang ditujukan kepada yang belum tersentuh narkoba, kemudian sekunder yaitu pencegahan bagi kelompok yang rentan terhadap penyalah gunaan narkoba, serta tersier atau pencegahan agar tidak kambuh.

Sementara itu, Pj Bupati Pringsewu Helmi Machmud dalam sambutannya mengatakan narkoba merupakan ancaman nyata yang mengancam kelangsungan kehidupan dan masa depan remaja yang merupakan generasi penerus bangsa.

Hal ini disebabkan karena pelajar merupakan jiwa yang selalu ingin mengetahui dan mencoba dalam pencarian jati diri sehingga mereka menjadi sasaran empuk akan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba.

“Sosialisasi bahaya narkoba menjadi salahsatu strategi tepat dalam memberikan pemahaman bagi generasi muda agar tidak terjerumus dalam penyalah gunaan narkoba, dan tindakan preventif lain, yaitu peran serta orang tua sebagai pengawas, tokoh agama, para pendidik dan dukungan lingkungan yang bersih dari narkoba sangatlah diperlukan mengingat sekarang ini sangat mudahnya untuk mendapatkan barang haram tersebut,” kata Pj Bupati.

Melalui sosialisasi P4GN ini, kata Pj Bupati, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, sehingga akan terjadi transfer informasi antar pelajar yang positif.

“P4GN berbasis lingkungan pelajar ini merupakan strategi yang sangat penting dalam pencegahan preventif terhadap penyalahgunaan narkotika dikalangan pelajar, oleh karena itu para pelajar dan guru bersama pemerintah, agar bersatu padu satu persepsi dan satu misi, serta berpartisipasi aktif dalam Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba,” pungkasnya.

Terpisah, Kabag Humas dan Protokol Setkab Pringsewu Sugesti Hendarto menambahkan, sosialisasi P4GN ini diikuti para pelajar baik SMP maupun SMAA yang ada di Kabupaten Pringsewu.

“Dipilihnya Kabupaten Pringsewu sebagai lokasi sosialisasi P4GN ini, mengingat Pringsewu berpotensi terhadap penyebaran narkoba dan AIDS. Oleh karenanya, kepada para guru dan orang tua atau wali murid agar selalu mengawasi anak didiknya agar tidak terjerumus dalam penyalah gunaan narkoba yang saat ini semakin mengkhawatirkan,” tambahnya. (*)

Senin, 14 Juni 2010

MUI, Organisasi Penuh Kasih Sayang


Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai organisasi keagamaan merupakan organisasi yang penuh kasih dan sayang yang harus mampu membimbing dan mengayomi masyarakat ke jalan yang baik dan benar, dan harus mampu berperan dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah SWT, serta memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan baik kepada pemerintah maupun masyarakat, dalam rangka terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian dikatakan Pj Bupati Pringsewu H.Helmi Machmud saat pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pringsewu di pendopo kabupaten setempat, Senin (14/6).

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan, kata Helmi Machmud, MUI diharapkan bisa menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah) dan juga antara umat dan pemerintah guna mensukseskan program pembangunan nasional yang sedang berjalan.

“ MUI harus berperan dalam meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan muslimin dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat khususnya umat Islam dengan mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik, sehingga apa yang disebut sebagai masyarakat yang madani dapat tercapai khususnya di Kabupaten Pringsewu,” katanya.

Sebagai organisasi yang dilahirkan oleh para ulama, zuama dan cendekiawan muslim serta tumbuh berkembang di kalangan umat Islam, lanjut Pj Bupati Helmi Machmud, MUI adalah gerakan masyarakat.

“Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia tidak berbeda dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di kalangan umat Islam, yang memiliki keberadaan otonom dan menjunjung tinggi semangat kemandirian. Semangat ini ditampilkan dalam kemandirian, dalam arti tidak tergantung dan terpengaruh kepada pihak-pihak lain di luar dirinya dalam mengeluarkan pandangan, pikiran, sikap dan mengambil keputusan atas nama organisasi,” ujarnya.

Kemandirian Majelis Ulama Indonesia, sambung Helmi Machmud, tidak berarti menghalanginya untuk menjalin hubungan dan kerjasama dengan pihak-pihak lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri, selama dijalankan atas dasar saling menghargai posisi masing-masing serta tidak menyimpang dari visi, misi dan fungsi Majelis Ulama Indonesia.

“Hubungan dan kerjasama itu menunjukkan kesadaran Majelis Ulama Indonesia bahwa organisasi ini hidup dalam tatanan kehidupan bangsa yang sangat beragam, dan menjadi bagian utuh dari tatanan tersebut yang harus hidup berdampingan dan bekerjasama antarkomponen bangsa untuk kebaikan dan kemajuan bangsa. Sikap Majelis Ulama Indonesia inilah yang menjadi salah satu ikhtiar mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau Rahmat bagi Seluruh Alam,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MUI Provinsi Lampung H.Mawardi dalam sambutannya meminta MUI Kabupaten Pringsewu dapat mengayomi semua ormas Islam yang ada di Pringsewu.

“Salah satu tugas MUI adalah menyatukan pola pikir, serta diharapkan menjadi perekat umat, sekaligus penyejuk, penenang dan penentram umat,” pintanya.

MUI Kabupaten Pringsewu, ujarnya, bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu diharapkan dapat membina umat Islam di Pringsewu dengan baik.
Hadir dalam pengukuhan yang menempatkan KH.Yahya Toheri sebagai Ketua MUI Kabupaten Pringsewu periode 2009-2014, Sekkab Pringsewu H.Zulkifli Maliki, Asisten I Bidang Pemerintahan Setkab Pringsewu H.Firman Muntako, Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu Budi Cipto Utomo, serta para tokoh agama dan masyarakat setempat. (*)

Jumat, 11 Juni 2010

Karya Bakti TNI Di Kresnomulyo



Anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) dari Komando Rayon Militer (Koramil) Pringsewu melaksanakan kegiatan Karya Bakti TNI di Pekon (Desa) Kresnomulyo Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu.
Dalam kegiatan tersebut, personil TNI bersama masyarakat desa setempat melakukan gotong royong perbaikan dan pelebaran jalan desa sepanjang lebih kurang 4 km di Pekon Kresnomulyo.

Menurut Komandan Koramil (Danramil) Pringsewu Kapten Sutoto, kegiatan tersebut merupakan salah bukti kemanunggalan antara TNI dengan rakyat dalam rangka membangun desa.

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan Setdakab Pringsewu Firman Muntako menyambut baik dan mendukung kegiatan tersebut, dalam rangka menumbuh kembangkan semangat persatuan dan kesatuan, baik diantara sesama masyarakat maupun antara masyarakat dengan TNI.

“Diharapkan kegiatan ini terus berlanjut dan ditingkatkan,” ujarnya, Jumat (11/6).

Selain Asisten I Setdakab Pringsewu serta Danramil Pringsewu, hadir dalam kegiatan Karya Bakti TNI di Pekon Kresnomulyo tersebut, diantaranya Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Pekon Kabupaten Pringsewu Syamsul Bachri, serta Camat Ambarawa Sofyan. (*)